Rindu

Salah satu yang saya rindukan dari suasana kuliah di Yaman adalah proporsionalnya dosen-dosen di sana, meski diantara mereka ada yang sudah sampai derajat mufti. Setelah mahasiswa bertanya suatu yang belum beliau ketahui, beliau tak pernah malu tuk berkata: wallahu a’lam/ atau tidak tahu.

Ketika kami membantah karna penjelasan hari ini berbeda dengan penjelasan kemarin pun mereka biasa saja, tak ada sifat malu untuk merubah statment atau mengkaji ulang kitab kembali. bahagia sekali rasanya. Tapi, mengingat itu sekarang, rasanya belajar dari orang yang benar benar mengerti ilmu dan adab-adabnya sangatlah mewah. Terlebih ketika saya menjadi mahasiswa di salah satu universitas negri ini. Sebab ada banyak parameter keilmuan bagi para dosen di sini yang sebenarnya tak perlu untuk dipakai.

Ketika saya menghadiri salah satu mata kuliah di saing hari, saya bertanya apakah penjelasan yang disampaikan beliau demikian? Tentunya karna sangat berbeda dengan pengertian yang saya pahami selama ini. Bukanya dijawab pertanyaan saya, atau bilang: wallahu a’lam jika memang tidak tahu, dia malah membahas materi lain yang tidak berhubungan dengan pertanyaan saya, diminta refrensi saya tunjukan, dan dia masih saja menjelaskan perkara yang tak nyambung itu, lalu dia bertanya lagi: sudah faham?. Lah, perasaan dia belum menjawab pertanyaan saya. Ini yang saya maksut dengan parameter keilmuan di atas yang sebenarnya tak perlu dipakai, yaitu tak malu berucap: “tidak tahu” atau “wallahu a’lam” jika memang belum tahu. tentu tidak semua dosen-dosen seperti itu sih, but mostly.

Mungkin menurutmu saya terlalu baper atau terlalu bodoh untuk mencerna penjelasan dosen itu, tapi ketika keadaan belajar mengajar menjadi kurang menyenangkan disebabkan parameter seperti itu, saya justru merindukan Rasulullah SAW. Sebagai oarang paling mengerti segala urusan di dunia ini, beliau sangat tak sungkan bilang “tidak tahu” atau “aku belum diturunkan wahyu”, kamu pasti masih ingat ketika beliau ditanya kapan hari kiamat atau apa itu ruh?. hingga tuhan memngajari beliau atau menurunkan wahyu, beliau tetap tidak menjawab pertanyaan yang memang beliau tidak tahu.

Sungguh saya merindukan para sahabat, seperti sayyidina Ibnu Abbas (maaf bagi kamu yang anti dengan kata “sayyidina”), beliau ketika ditanya apa itu “abba” dalam Al-Quran surah 80 ayat 31, beliau tak pernah malu mejawab “tidak tahu”, belum lagi Imam malik, imamnya masyarakat madinah, beliau menjawab “aku tidak tahu” 32 kali ketika ditanya 48 pertanyaan.

Ah, betapa “wallahu a’lam” bukanlah hanya ungkapan berahirnya suatu majlis atau kajian.

Tapi sebenarnya kita hidup di tahun berpa si? Jangan jangan di masa sebelum rasulullah datang membawa islam dengan nilai nilai “janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” Al-Isra’ 36.

Wallahu a’lam
Gambar hanya pemanis, meski tak manis

Iklan

apa sih reksadana syariah itu?

Apa sih reksadana itu?

Sederhananya : Reksadana adalah suatu tempat/lembaga keuangan, dimana kita dan jutaan orang lain yang nanti diberi nama “investor”, mengumpulkan dana kita jadi satu, lalu menyerahkan kepada Manager Investasi “MI”, untuk diinvestasikan kepada instrumen-intrumen keuangan lain, instrumen keungan itu bisa berupa saham, obligasi dan pasar uang.

Reksadna di indonesia ada banyak jenisnya, jenis reksadana akan menentukan kemana uang kita akan diinvestasikan:

  1. Reksadana Pasar uang: dalam reksadana ini uang kita akan diinvestasikan dalam deposito dan sertifikat bank Indonesia.
  2. Reksadana Pendapatan tetap: untuk jenis ini, mayoritas uang kita akan dimasukan ke obligasi dan surat hutang
  3. Reksadana Saham: dalam jenis ini, kebanyakan uang kita akan dibelikan saham
  4. Reksadana Campuran: terlihat jelas dari namanya, campuran, dalam jenis ini uang kita bisa masuk ke obligasi, dibelikan saham, atau deposito.

Kenapa sih kita ga invertasi langsung aja ke obligasi atau deposito? Kenapa harus lewat reksadana? Kita akan bahas di kelebihan dan kekurangan reksadana.

Kelebihan reksadana:

  • Adanya “MI” Meneger Investasi.

Obligasi itu apa sih? Surat hutang itu apa? Gimana sih cara beli saham? Nah jika kita masih bingung dengan istilah itu, dan ga ngerti, dan ga punya waktu juga untuk mempelajari itu semua, maka ada baiknya kita menginvestasikan uang kita melalui reksadana, karna dalam lembaga itu ada seorang yang berna Meneger Investasi, yang ceritanya dia sangat ahli dalam keuangan, biar dia yang mengurusi uang kita, berusaha semaksimal mungkin agar kita mendapat keuntungan yang maksimal.

  • Bisa beli eceran: maksutnya, dengan uang yang relatif kecil, 100k misalnya, kita sudah bisa beli reksadana atau kita sudah bisa berinvestasi. Dibanding kita berinvestasi langsung dengan berdeposito, beli saham, obligasi sendiri, tentu uang sekecil itu tidak cukup.
  • Reksadana itu liquit: bisa dijual kapan saja, beda halnya dengan deposito yang harus menunggu samapai jatuh tempo dulu baru bisa dicairkan.

Kekurangan reksadana:

  • Adanya fee: manager investasi yang telah bekerja unutk kita “seperti yang telah disebutkan dalam poin 1 di atas” kita harus bayar mereka dong, yang bisa disebut dengan fee, fee itu bervariasi, umumnya akan ada fee dua kali, yang pertama ketika kita membeli reksadana, fee nya biasanya 1% sampai 3%, dan yang kedua ketika kita mau menjual, biasanya fee nya 0,5% samapai 1%. Karnanya kalau mau membeli reksadana jangan lupa lihat fee nya.
  • Kinerja Meneger Investasi “MI”: ini juga bisa jadi kekurangan reksadana, karna bisa saja Meneger yang kita pilih berkinerja buruk lalu kita tidak menghasilakan apa apa, kan sedih, kita udah bayar fee, tapi ga untung.

Karena jurusan saya adalah ekonomi syariah, saya akan membahas hukum Reksadana menurut kacamata syariah.

reksadana-syariah.png

Dalam islam sendiri, yang merupakan agama syamil atau agama yang sangat lengkap tuntunan dan ajranyanya, semua prilaku manusia sudah dibahas, prilaku manusia dalam bentuk transaksi keuangan dikaji dalam cabang ilmu fiqh muamalah. Dalam cabang ilmu tersebut semua transaksi keuangan “muamalah” itu boleh hukumnya/mubah selama tidak bertentangan dengan syariah.

Faktanya, ke empat instrumen keuangan tempat reksadana menyalurkan dana investor itu tak semua halal, karnanya MUI melalui fatwa DSN nya 20/DSN-MUI/IV/2001 disini membatasi lembaga reksadana dengan beberapa ketetentuan jika ingin dilabeli Halal.

Dalam fatwa itu, MUI menegaskan bahwa investasi reksadana syariah hanya dapat dilakukan pada:

  • Instrumen saham yang sudah melalui penawaran umum dan pembagian divenden didasarkan pada tingkat laba usaha.
  • Penempatan dalam deposito Bank Umum Syariah.
  • Surat hutang panjang sesuai prinsip syariah atau yang lebih dikenal dengan sukuk.
  • Investasi juga hanya bisa dalam jenis usaha yang tidak bertentangan dengan syariah, maka reksadana tidak boleh berinvestasi dalam usaha perjudian, memproduksi atau berhubungan dengan makanan dan minuman halal, dan juga dalam usaha lembaga keuangan konvensional

 

Intinya apa?

Intinya, jika kita muslim, dan ingin menerapkan islam dalam semua lini kehidupan kita termasuk dalam berinvestasi, dan kita ingin berinvestasi dalam reksadana, maka seharusnya kita memilih reksadana syariah yang sesuai dengan ketentuan fatwa MUI tersebut, karna MUI telah berijtihad, mengkaji dan memberi ketentuan ketentuan agar reksadana syariah menjadi halal atau sesuai tuntunan agama.

 

wallahu a’lam

popcorn

Semula semua baik baik saja, seperti mahasiswa lainya, aku mengerjakan tugas sehari sebelum presentasi, ngopi di cafe free WiFi sampai larut malam, lebih memilih ojek online sebagai transportasi karna memang lebih murah. Lambat laun si ipank (teman baruku dari pulau garam) muncul dengan ide ide yang aneh, misalnya mengajak ikut seminar bisnis di warkop.

Maka, bukan orang lain, melainkan ipank lah yang menyebabkanku keluar dari zona nyamanku. Dihasutnya aku untuk berwirausaha. Tak tau darimana dia mendapat ide tuk berbisnis itu, ditambah lagi aku memang manusia yang gampang dihasut, senang dihasut, lebih tepatnya.

Kerap dia menggedor pintu kamarku tengah malam, ia menunjukan ide ide bisnisnya lewat sebuah hape. Berkilat matanya memantul sinar dari layar, saat itu kukenal kilat mata seorang interpuneur.

Kondanglah dia di komunitas kami dengan pemburu seminar bisnis. Setiap kali ada seminar bisnis ia pasti hadir, walau hanya untuk menulis nama. Seminar di warkop: hadir, seminar di kampus: hadir, seminar di alun-alun: hadir, seminar di dalam kota: hadir, seminar di luar kota: hadir, tak ada seminar pun ia : hadir.

Pernah kutemukan sebuah novel di rak buku ipank, lantai 2, di samping tempat tidurnya. Buku itu persis menggambarkan keadaan kita berdua. Kata buku itu, orang macam kami akan makin kompak, iapnk bagai orang tak bermata tapi bertelinga tajam, aku orang yang tak bertelinga tapi bermata tajam. Bayangkan, jika kami bersatu. Sendiri-sendiri kami bukan siapa siapa, tapi berdua, kami patut diperhitungkan. Diperhitungkan untuk apa? Aku tak tahu.

Lalu, datanglah ipank pada suatu malam masih dengan hapeh yang sama, mengajakku berbisnis jual popcorn depan SD sekitar sini, dimulai dengan membuatku merasa bersalah karna udah tua masih bergantung pada orang tua, disisipi bahwa laki laki harus mandiri, dan diakhiri dengan janji manis uang yang akan kita dapatkan. Oh, uang, aku paling suka!

“Popcorn tak muncul dari ruang hampa, ruf!.” kata ipank.

“Ambillah uang ini, ini uang dari penggadaian laptopku. Uang terakhirku.”
“Besok kau pulang ke Jember, buatlah alat untuk memasak popcorn seperti yang aku lihatkan padamu tadi malam.”

“Ojeh, bos!” kataku.

Hampir setengah baya aku, cukup jauh pengalaman dan mainku. Saat itu tak kusadari bahwa pengalaman paling berharga sebenarnya baru akan dimulai dari alat pembuat popcorn itu.

Sesuai perintah ipank, alat pembuat popcorn itu aku bawa ke malang, kita mulai menggoreng dan mengemas produk tuk dijual depan SD. Iapnk mulai menghitung keuntungan yang akan kami raup.

“Tak kan meleset” katanya. “Semua anak SD suka popcorn rasa”

“Ojeh bos.” Sahutku.

“Jangan lupa kita tukar uang buat kembalian nanti”

“Delapan enam, Bos!”

Sesudah subuh, kita berangkat bersama menuju depan SD sesuai target.

43952591_1073219946174664_2402759908320608256_n

Musim dingin di malang seperti ular nagin yang mendesis-desiskan hawa dingin pagi itu, “tak usah pakai jaket, jadilah cowok kuat ruf” katanya.

“Siap, Bos!.”

Di depan SD kami bertemu tukang cilok yang mulai merasa tersaingi meski jualan kami berbeda, Dia, berkata dekat sekali dg mukaku sehingga dapat kucium bau sandal jepit dari mulutnya. “Baru ya mas, kalau mau jualan disini ada prosedurnya mas”. Hardiknya tegas.

Mental pelajar yang dari dulu aku pupuk, ditambah rasa maluku yang tak kecil jika berhadapan dengan orang asing membuatku gugup. Gugup membuatku lupa duduk perkara dan urutan kejadian. Yang kutahu kami telah berjualan seminggu di depan SD itu tapi tak satupun laku. Sekarang kami duduk berdua menghadap popcorn yang mulai layu dan tak laku itu.

Selama satu jam ipank linglung, bukan karna dipecat, bukan karna lenyapnya uang laptop, bukan pula karna banyak utang.

Kami tak dipecat karna memang tak ada yang bisa memecat tukang popcorn pinggir jalan, kami tak sedih karna hilangnya modal dan juga kami tak punya hutang.

Selama satu jam iapnk melamun disamping jendela, memandangi ayam tetangga yang lewat. Ipank linglung karna bagaimana bisa perhitungan bisnisnya yang ia perhitungkan berminggu-minggu meleset.
“Bagi pengusaha, perhitungan bisnis adalah segalanya, ruf!.”
“Aku tak tahu darimana ia mendapat prinsip itu?, entahlah”

Selama satu jam ia melamun. Namun, aneh, setelah itu, diambilnya hape cina miliknya, dan ia mulai lagi menghitung rencana bisnis baru.

Kolapsnya bisnis kami membuatku tambah kagum dengan si ipank ini. Tentu tak mudah kehilangan bisnis yang sudah jauh jauh hari diperhitungkan, dimodali, bahkan sampai waktu dosen menerangkan makul ia masih memperhitungkan bisnis itu. Tapi ia bisa bangkit dalam waktu satu jam. Banyak anak muda seumuran kami yang tak sanggup tuk kehilangan bisnis pertamanya, bahkan untuk memulai saja mereka malu.
Jika suatu hari nanti nasib memberiku sebuah usaha, aku ingin memperjuangkan usaha itu lebih dr iapnk, jikapun harus kolaps, aku tak ingin meratapinya lebih dari satu jam.
Namun, akankah nasib memberiku usaha?

*Aku adalah kopi, jika kau tak mengerti pahitku, mungkin teh lebih cocok untukmu. @fawziaulva

Udah sarjana kok belum kerja?

“Sudah mondok dan kuliah kok masih kerja jual kopi, terus ilmu dan ijazahnya buat apa?”


Sindiran dan pertanyaan macam ini sudah sering saya dengar, mungkin orang-orang yang senasib dengan saya juga.
udah mondok lama lama terus melanjutkan study jauh jauh, apalagi sampai ke luar negri, tapi pas pulang masih bingung cari kerjaan, gimana sih.
Seperti selalu, Keadaan semacam ini memang sangat lezat tuk dijadikan tranding topik gosip oleh ibu ibu yang suka arisan di desa saya.

Tapi, hidup hanyalah pengulangan sejarah, begitu kata orang bijak, kalau kita mau sejenak meluangkan waktu tuk membaca sejarah sejarah para cendikiawan dan ulama dulu (khususnya ulama dan cendikiawan islam, karna memang mereka yang saya ketahui) kita akan mendapatkan kasus-kasus yang memperkuat statement bahwa pendidikan dan pekerjaan tak harus selalu singkron, karna memang dalam beberapa situasi, seseorang tak bisa bekerja sesuai dengan ilmu yang iya miliki.

Fakta di lapangan kadang dengan tegas menceritakan bahwa ibu ibu itu, atau orang yang berpikir seperti mereka, tak ragu tuk memberi streotip pada dahi dahi kami “Mungkin ilmunya tak berkah karna sering melanggar di pondok”, hanya karna pekerjaan atau gaji orang seperti kami tak seperti yang ibu-ibu itu harapkan.

Kalau saya ditanya “kenapa tak jadi dosen aja? Kan sesuai itu dengan jurusan kamu itu?
Ya saya akan bilang, ga semua orang yang memiliki ijazah bisa jadi dosen, selain faktor ijazah, ada faktor-faktor lain sperti koneksi, jalan pintas dan keberuntungan. Tapi kalau saya dibanding bandingkan dengan orang lain yg lebih sukses dari saya, ya saya akan bilang bahwa itulah faktor keberuntungan yang saya maksut. Lama lama jadi kesel juga.

Tapi, apa iya sebegitu mengenaskannya kita, jika kita sekolah dan kuliah terus tidak mendapat pekerjaan yang layak dengan kita, dianggap tak sukses atau tak berkah?
Bagaimana kalau memang keadaan memang tak mengizinkan, atau tak merestui.
Memang tak baik menyalahkan takdir, tapi bukankah kita hanya dituntut usaha, sedangkan hasil itu sudah ada yang ngatur.

Padahal jika kita mau membuka lembaran lembaran sejarah, dari zaman dahulu, merupakan suatu hal yang lumrah tak singkron nya pekerjaan dengan ilmu yang dikuasai seseorang. Sehingga sampailah kita pada zaman yang modern ini, yang sedikit demi sedikit hal lumrah itu terkikis.
Jadi biar para sahabat sahabat tak sungkan tuk bekerja apapun, sambil terus mengejar cita cita, saya akan berbagi refrensi refrensi yang saya tahu, sekali lagi hanya yang saya tahu untuk menjadi support buat para sarjana yang belum berpengasilan seperti kita ini.

Imam abu hanifah (berdagang selayaknya pedagang yang lain)
Siapa yang tak kenal beliau, salah satu pendiri madzhab 4 yang masih exis sampai detik ini, hidup di abad 200 hijriyah, orang yang wara’, berpendidikan, keutamaan dan kehebatan beliau tak perlu diragukan lagi, meski begitu beliau tak mau mendekati para pemerintah tuk mengharap uang, beliau dengan mantap berniaga seperti orang orang lain.

Abu bakar sang penjual kacang (baqilan)
Beliau adalah ulama asal iraq, hidup pada abad 500 hijriyah, banyak gelar yang disematkan padanya karna kapasitas keilmuanya yang sangat luas, gelar “qodi” (sebuah gelar buat para hakim pada zaman itu)
Gelar “almutakallim” (gelar bagi ahli filsafat) dan banyak yg lainya. Beliau juga menjadi rujukan dalam madzhab maliki. Meski gelar dan luas ilmu yang ia miliki tapi ia tak sungkan berjualan kacang

Abu bakar al bazzar (penjual kain)
Salah satu cendikiawan abad 300 hijriyah, beliau ahli dalam bidang hadis, meski sebagian ulama mengkritik beliau dari segi hafalanya, tapi produktifitas beliau harus diakui, banyak hadis yang beliau riwayatkan dan kitab yang beliau tulis, syarah dari kitab muwatto’ yang paling terkenal. Beliau masih saja berjual kain dengan kapasitas kelilmuan beliau yang diakui ulama ulama lain.

Abu hayyan attauhidi (penjual kurma)
Seorang cendikiawan kharismatik asal baghdad, yang hidup pada abad 400 hijriah

Muhammad bin soleh albittikhi (penjual semangka)

Dan ada banyak lagi para cendikiawan islam yang tak ragu tuk bekerja dengan pekerjaan yang tak pantas dengan mereka menurut zaman kita sekarang ini, tapi pemikiran pantas atau enggaknya suatu pekerjaan itu mungkin tak pernah terlintas di benak mereka.

Udah belajar tinggi tinggi kok cuma jual kopi? Menurut saya pertanyaan seperti itu akan muncul jika kita mengartikan pekerjaan yang saya sebut adalah hal hina, tapi jika kita mengartikan hal itu sebagai salah satu jalan tuk mencari rizqi allah maka pertanyaan demikian tak perlu muncul.

Okelah, kita terima saja asumsi itu, meski saya kurang setuju, maka, jika kita mengartikan pekerjaan itu sebagai hal yang hina, yang tersisa hanya ada dua pilihan.

Satu, kita ikut narasi jalan pikir masyarakat kita, lalu kita duduk termanggu-manggu menunggu makjizat turun tuk merubah status sosial kita menjadi terhormat karna tiba tiba ada tawaran pekerjaan yang layak dan langsung.

Dua, kita kesampingkan pemikiran mereka, dengan melakukan pekerjaan saja apa yg kita bisa, seraya tak henti berdoa dan usaha agar tuhan mau mengkaruniai pekerjaan yang layak dengan kita.
Dengan demikian secara tak langsung kita memperbarui narasi pemikiran lingkungan kita, sedikit demi sedikit.

Pilihan mana yang anda pilih saya dukung…

Musik, haramkah? 

Agar cara pandang anda mengenai musik lebih berwarna, luwes dan tidak ambigu, ada baiknya meletakan musik dalam prespektif yang lebih luas, yaitu meletakan nya dalam cabang ilmu maqosid syariah,(tujuan-tujuan syariat islam). Titik awalnya bisa kita kembalikan pada perinsip dasar ilmu tersebut, lalu mengkaji ulang argument-argument mereka yang terlalu ngotot mengharamkan musik. 

Karna jujur saya resah dengan mereka yang selalu ngotot mengharamkan musik, seolah-olah menutup mata pada perbedaan pendapat antara ulama, pura-pura buta terhadap pendapat yang menghalalkan musik. 

Sebelum lebih jauh, saya ingin mengingatkan bahwa yang akan saya utarakan ini adalah hukum musik (ma’azif) , bukan lirik, suara penyanyi atau unsur-unsur lain yang bisa menyebabkan hukum bermain musik atau mendengarkanya menjadi mutlaq haram.

Kemudian ada baiknya juga anda menyeduh secangkir kopi dulu, menyiapkan sepiring gorengan, dan duduk diatas kursi sofa yang empuk, karena pembahasan kali ini tak terlalu ringan.

Berikut saya uraikan dengan bahasa yang semoga mudah dipahami, meski akan sangat susah untuk menghidar dari istilah istilah teknis. 

Pada mulanya prinsip dasar yang diajarkan dalam cabang ilmu maqosid adalah: “tujuan utama diturunkan nya hukum-hukum syariat, adalah untuk mendatangkan segala sesuatu yang baik dan mencegah segala sesuatu yang buruk“.

Atau yang lebih populer dengan istilah “jalbul masolih, wa dar’ul mafasid

Contoh mudahnya: disyariatkan pernikahan agar mendatangkan kebaikan berupa keturunan,  yang nantinya akan meneruskan estafet kehidupan ini. 

Contoh lainya: disyariatkan hukuman potong tangan bagi orang yang mencuri, agar mencegah sesuatu yang buruk, yaitu untuk melindungi harta manusia dan untuk melindungi tersebarnya pencurian di suatu komunitas. 

Intinya,  semua syariat-syariat islam bertujuan untuk mendatangkan sesuatu yang baik, dan mencegah sesuatu yang buruk. 

Tapi jika kita aplikasikan dalam kasus musik, musik ini, jikalau memang tidak mendatangkan suatu kebaikan, tapi ia bukanlah sesuatu yang bisa mendatangkan kerusakan atau keburukan,  seperti halnya pencurian atau perzinahan yang sudah jelas kerusakan dan keburukan yang disebabkanya,  karnanya musik ini sangat berbeda dengan itu semua, musik yang tanpa dibarengi dengan sesuatu yang lain, tidak mendatangkan suatu kerusakan apapun, musik sama seperti suara-suara bagus lainnya, sama sepeti suara kicauan burung atau suara merdu seseorang qori’. Maka kurang arif rasanya jika seorang ulama, atau orang awam yang fanatik dengan ulama mereka, terlalu extreme atau ngotot untuk mengharamkan musik ini.

Jangan bilang kalau musik ini bisa menumbuhkan kenifaqan dalam hati, karna itu adalah (istidlal fi mahallil niza’) , karna istidlal fi mahalil niza’ itu tidak diperbolehkan menurut literatur ushul fiqh (filsafat hukum islam). Anda bisa melewati paragraf ini karna poinya lebih mudah difahami oleh orang yang pernah belajar cabang ilmu itu. 

Kemudian Kita lanjutkan dengan mengkaji argument keharaman musik. 

Sejatinya argument keharaman musik ada banyak, yang paling kuat, dan sering disebut-sebut adalah
 

Hadis yang diriwayatkan imam bukhori dalam kitab sohihnya:
ليكوننَّ من أُمَّتي أقوام يَستحلُّونَ الْحِرَ والحَريرَ والخمر والمعازِف

(Sungguh akan ada suatu golongan dari ummatku, mereka menghalalkan kemaluan, kain sutra, khomer atau arak, dan alat musik)
Kalau kita teliti lebih dalam, hadis ini sebenarnya masih dalam perselisahan antara ulama, sebagian dari mereka menganggapnya hadis yang sohih (valid), sebagian yang lain menganggapnya doif (tak valid).
Bagaimana mungkin hadis yang disebut dalam kitab sohih bukhori tak valid? Bukankah beliau telah menjamin bahwa semua yang ada di dalam kitabnya itu valid semua? 
Bisa saja, karna hadis ini beliau tulis dalam kitabnya dalam keadaan mua’laq (ada beberapa perawi yang tak disebut dalam sanadnya), sedangkan yang beliau jamin semua hadis di kitab beliau dengan kevalidan, jika sanad dari hadis tersebut lengkap. Jadi memang mungkin ada hadis dalam kitab sohih bukhori itu yang tak valid, yaitu hadis-hadis yang mua’laq tadi. 

Intinya hadis ini masih diperselisihkan oleh sebagian ulama atas keafsahan dan kevalidan nya. 

Jikapun kita menganggap atau mengikuti ulama yang menjadikan hadis ini valid, masalah ini tak selesai disini, karna jika kita mengkaji teks dari hadis ini, kita akan menemukan bahwa menjadikan hadis ini sebagai argument haramnya musik itu tak sepenuhnya benar, bagaimana bisa? 

Mari selimak penjelasanya:

Redaksi Hadis diatas menyebutkan bahwa pada ahir zaman, sebagian kaum dari umat ini akan menghalalkan 4 perkara, yaitu: kemaluan, kain sutra, arak dan musik.

Cuma bukan berarti musik menjadi haram dengan landasan hadis ini, coba kita teliti empat perkara yang disebut dalam hadis tadi. 

Dimulai dengan kemaluan: sebagai mana yang kita tahu bahwa hukum kemaluan ada dua, ada yang halal, yaitu kemaluan istri atau hamba sahaya yang dimiliki oleh seseorang, dan ada yg haram,  yaitu kemaluan selain istri atau budak orang tersebut, berarti maksut dari hadis ini adalah: akan ada golongan dari umatku mereka menghalalkan apa yang haram dari kemaluan. Bukan menghalalkan semua kemaluan, karna memang tak semua kemaluan haram. 

Begitu juga dengan kain sutra: memakai kain sutra ada yang halal,  yaitu jika yang memakainya wanita, atau laki laki jika kain sutranya tidak murni, ketika campuranya lebih bayak, sedangkan sutranya sendiri maksimal 50% atau kurang dari itu dan terkadang hukumnya haram yaitu selain yang disebutkan tadi, jadi maksut dari hadis itu: akan ada golongan dari ummatku yang menghalalkan apa yang haram dari kain sutra. Bukan menghalalkan semua kain sutra, karna memang tak semua kain sutra itu haram. 

Kalau memang hukum dua perkara tadi “kemaluan” dan “kain sutra” bisa diperinci menjadi dua, ada yang halal dan haram, maka seharusnya hukum musik juga dibuat demikian, seharusnya musik juga ada yang haram dan ada yang halal,  seperti hukum kemaluan dan kain sutra tersebut. 

Kenapa malah dibuat hukum musik haram dengan landasan hadis ini? Bagaimana atau dari mana mereka bisa mengambil hukum haram dari hadis ini?

Tapi hukum arak kan semuanya haram, tak ada arak yang halal? Jadi musik sama dengan arak

Memang betul, semua arak haram, tapi kenapa hukum musik harus disamakan dengan arak? Kenapa tak disamakan dengan hukum kemluan dan kain sutra yang hukumnya terperinci menjadi dua? Bukankah menyamakan sesuatu dengan perkara lainya tanpa ada argument itu tahakkum atau menang sendiri?

Saya tak ingin mengunggulkan pendapat atau argument orang yang menghalal musik, atau yang mengharamkan nya. Hanya saja, saya ingin menegaskan bahwa hukum musik ini bukanlah hukum yang sudah qoth’i (final), melainkan masih dzonny (disangka halal, atau haram). Maka tak boleh orang yang berpendapat musik haram untuk ingkar kepada mereka yang berpendapat halal, karna dalam literatur qowaidh fiqh disebutkan “laa yunkarul muhtalaf fihii wa yunkarul mujma’ alaihi” (tak boleh ingkar pada perkara yang masih diperselisihkan hukumnya, dan harus ingkar pada sesuatu yang telah disepakati hukumnya).

Sejatinya masih banyak argument-argument yang sering mereka pakai untuk mengharamkan musik,  mungkin lain waktu bisa kita lanjutkan. Sekarang saya ingin nonton dulu. 

Tulisan ini terinspirasi atau diringkas dari kuliah yang disampaikan oleh Doktor syarif hatim, salah satu ulama makkah yang saya kagumi, disini link nya.

Celup, “cekrek, lapor dan upload” dari sisi yang lain

Dalam tradisi ilmu agama, hususnya dalam cabang ilmu kaidah-kaidah fiq (qowaid fiqhiyah), terdapat pembahsan tentang hak-hak manusia, hannya saja yang ingin saya bahas kali ini adalah pembahasan tentang pembagian dari hak-hak manusia itu.

Hak hak manusia bisa dibagi dengan sederhana menjadi tiga bagian, hak manusia yg berkaitan dengan manusia lain, yang kedua hak manusia yang berkaitan dengan tuhannya, dan hak manusia yang berkaitan dengan manusia dan tuhan sekaligus.

Hak-hak yang berkaitan dengan manusia lain seharusnya tak boleh ditutup-tutupi, tapi diakui dan dilunasi, karna manusia pada umumnya akan menuntut hak-hak mereka, jarang diantara mereka yang rela hak nya diabaikan. Sebutlah hak hutang piutang, jika tidak ada bukti dan saksi, orang yang berhutang seharusnya mengaku bahwa ia memiliki hutang dan melunasinya pada sang pemilik hutang, karna hutang termasuk dalam hak-hak manusia yang berkaitan dengan manusia lain, yang sekali lagi saya ulangi seharusnya diakui dan ditunaikan.

Beda halnya hak hak manusia yang berkaitan dengan tuhan, hak ini seyogyanya ditutup tutupi dan tidak diumbarkan, karna memang pada dasarnya tuhan yang memiliki siafat pengampun dan penyayang itu lebih senang menutupi hak nya atas manusia dan tidak menuntutnya, contoh mudahnya hak tuhan untuk menghukum orang yang melakukan zina, yang berupa cambukan 100 kali untuk mereka yang belum menikah, dan hukuman mati dg dirajam untuk mereka yang sudah menikah. Jika tidak ada saksi atas perbuatan zina, (dan menurut fiqh konvensional pembuktian zina ini sangat sulit, zina tidak akan terbukti kecuali dengan empat orang saksi, empat orang saksi itu harus memenuhi syarat laki-laki muslim, merdeka, dan adil. Pengertian adil di sini adalah jarang melakukan dosa kecil dan tidak pernah melakukan dosa besar, tentu saja termasuk zina.) maka seorang pendosa seyogyanya menutup nutupi perbuatan ini dan bertaubat, tak usah pergi ke pihak berwajib tuk minta dihukum, karna hukuman zina termasuk hak tuhan, termasuk bagian ke dua.

Apa pentingnya pembagian ini?
Mungkin pentingnya pembagian ini akan tampak ketika kita bingung kapan harus menutup-nutupi hak-hak atas kita, kapan harus mengakuinya. Teliti saja, apakah hak hak itu termasuk dari pembagian pertama maka harus diakui dan ditunaikan, ataukah termasuk dalam bagian kedua yang hendaknya ditutup tutupi kemudian bertaubat jika itu memang perbuatan dosa.

Pembagian ini bisa kita aplikasikan dalam kasus “CELUP” yang sedang hangat hangatnya ini.

Celup adalah sebuah akronim dari, CEkrek, Lapor dan UPload. Yang diplopori oleh mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.

Sebuah gerakan yang mengaku kampanye anti asusila ini, mengajak masyarakat untuk mencekrek dan melapor tindak asusila atau pacaran secara berlebihan di tempat umum dengan mengikuti kampanye sosial ini.

Tapi, jika mau kita teliti lebih mendalam lagi, sebenarnya pacaran secara berlebihan atau tindak asusila ini jika dilakukan di tempat tersembunyi maka termasuk perbuatan dosa yang tidak ringan tapi tak ada hukuman atau sangsi (ta’zir) dalamnya.

Beda halnya jika perbuatan ini dilakukan di tempat umum, maka sang pelaku harus di sangsi oleh pihak berwajib, seperti yang dicontohkan oleh sayyidina Umar ketika beliau menjabat sebagai holifah, hanya saja yang harus digaris bawahi, bahwa hak untuk menghukum mereka itu termasuk hak tuhan, yang sekali lagi saya ulangi: jika tak ada saksi atau bukti hendaknya ditutup tutupi oleh pelaku kemudian ia bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Jikalau kita memiliki niat dan i’tikad baik dengan melaporkan perbuatan ini, (dan ini merupakan hal yang sangat terpuji) seharusnya langsung dilaporkan ke pihak berwajib, bukan malah mengunggah ke internet agar dilihat semua orang, bukankah ini termasuk aib saudara kita yang harus kita rubah dan luruskan bukan kita unggah dan pamerkan? bukankah cara merubah kemungkaran memiliki aturan dan adab yang seharusnya juga kita perhatikan?

Tabik

Cerpen: Vape

Menurutku hidup itu mudah, ketika aku malas sekolah aku tinggal pergi ke terminal, ambil ukulele milik kakaku lalu memainkannya, dari bus ke bus. Entah karna terhibur, kasihan atau jengkel, para penumpang bus-bus itu nanti akan memberiku uang receh atau sebatang rokok dengan sendirinya.  Setelah beberapa kali pindah bus, matahari akan menyingsing di ufuq barat. Saku ku terisi meski tak penuh, dan hari ini pun berahir.

Mudah bukan?
Aku suka bernyanyi. Benci sekolah, karna waktu jam pelajaran seni, si ibu guru pemalas itu selalu menyuruh kimi menggambar. Seperti selalu, ia masuk 15 menit setelah bel berbunyi, menyuruh murid-murid menggambar, lalu ia meninggalkan kelas sampai tiba waktu pulang. Sangat membosankan.
Tapi tak lama aku hiraukan itu, toh ketika aku bosan, aku bisa pergi ke terminal, ibu dan ayahku tak pernah marah, karna mereka belum bangun, mereka masih pulas dalam tidurnya setelah semalaman menjual pecel lele disamping terminal.

Kakak ku? Halah, tak usah ditanya ia juga sama, masih tidur, tapi bukan karna sibuk membantu ayah, ia sibuk menggeser-geser senar gitar dan bermain kartu, ia sama dengan teman temanya, mereka gondrong.
Umurku memang masih 13 tahun, tapi bakat seniman jalanan ini sudah aku dapatkan dari lahir, mengiramakan petikan ukulele dengan lirik lagu memang banyak yang bisa, tapi, kapan harus memejamkan mata, kapan harus tersenyum dan kapan harus bertatapan kosong penuh sendu ketika suatu lagu dimainkan, aku ahlinya. Tak jarang aku melihat penumpang bus hususnya ibu-ibu menangis mendengar aku bernyanyi, ia memberi uang lembar, lalu mengusap kepalaku.
Aku memiliki teman yang kaya, Agus namanya, suatu hari, sepulang ngamen, temanku ini membawa sesuatu yang aneh yang ingin ia tunjukan padaku, dia bilang “ini namanya vape”, benda itu memantulkan cahaya silau benda mahal saat ia goyang-goyangkan, agus menempelkannya di mulut, lalu menekan tombol dan menghisapnya, sejurus kemudian ia mengeularkan asap yang dia hisap tadi, banyak betul, keren sekali, mataku berbinar, aku mangap melihatnnya, asapnya wangi, terkadang berwangi buah, aih, bagus sekali benda yang bernama vape itu. 

“Cobalah” Tawarnya, aku menggeleng, karna aku sudah janji pada ibu tuk tak merekok.

“Ini bukan rokok” Ucapnya meyakinkan, “ini rokok elektrik”.

Tak tahan, aku mencobanya, pada hisapan pertama aku batuk, tapi aku tak menyerah, aku masih mencoba dan mencoba, saat tombol benda itu aku tekan, seakan terjadi pembakaran, cairan yang setalah beberapa hari aku tahu bahwa namanya liquid itu terbakar disela sela kumparan kawat kecil, menguap menjadi asap, aku hirup dan nikmati asap itu sampai ke paru-paru, “wah rasa apel” teriakku dalam hati, aku meloncat loncat senang, tanpa aku sadari menyelinaplah sifat ambisius tuk memiliki di bagian tergelap hatiku, memekikan janji aku harus membelinya.
Aku semakin jarang sekolah, semakin sering mengamen, Jika teringat benda yang bernama vape itu, semangatku tuk mencari uang meletup-letup.

Sebulan sudah aku mngumpulkan uang, tapi ternyata harga vape itu sangatlah mahal, uang yang kumpulkan tak sampai separuh dari harganya, aku sedih.

Tapi sungguh sial si agus, setelah ia tau aku ingin membeli vape tapi tak punya uang, ia bergegas membawa hapenya ke rumah, “ini lihatlah, ada video orang membuat vape sendiri, dengan peralatan seadanya”.

Benar saja, video itu menjelaskan cara membuat vape sendiri, dengan peralatan seadanya yang semua bahan dan alatnya bisa dibeli di toko matrial, orang yang ada di video itu mengisap vape buatanya sambil tersenyum-senyum, 

“tuk menghisap vape tak perlu uang yang mahal kawan”, kira kira begitu arti senyumnya.
Setengah jam aku membeli dan merakit vape meniru video itu, gampang saja, tak perlu guru. Setelah selesai aku pakai vape itu selama aku mau, aku sangat senang, dari pagi sampe sore aku tak pergi mengamen, apalagi sekolah, hanya menghisap vape, dan aku bahagia.
Tapi entah dosa apa yang aku perbuat, saat aku sedang asyik menghisap vape buatanku itu, mendadak ia panas, aku tak ambil pusing, terus saja ku hirup benda itu, ternyata batrenya bocor, sehingga semua daya keluar secara bersamaan menuju kumparan kawat kecil yang aku tetesi liquid itu, ia memanas karna kelebihan daya, samakin panas karna terus saja aku tetesi liquid, ahirnya terjadi arus pendek di dalam dan meledaklah vape buah karyaku yang tak genap sehari itu, ia meledak pas saat aku hirup dalam dalam. Kaget, panik, cemas dan takut menyergapku tanpa ampun, tangan dan mulutku meleleh karna panas, aku merintih kesakitan.
Tapi tak lama aku sesali itu, toh sekarang aku mempunyai hobi dan kesenangan baru, yaitu menulis, aku sudah benci menyanyi, karna tiap kali menyanyi, penumpang di bus-bus itu tak lagi terhibur, mereka malah jijik dan iba, dan aku tak suka di kasihani. Kata mereka suaraku tak lagi merdu, karna kau sekarang sumbing. Vape sialan.

Biarlah, suka suka mereka, aku tak mau ambil pusing, karna aku sudah tergila gila dengan menulis, bukankah sudah kukatakan sobat, hidup itu mudah?